Jumat, 08 Januari 2010

Madu pengobatan lebih baik dari obat buatan manusia

Berikut adalah artikel menarik yang saya kutip dari Journal of Family Practice :

Diceritakan di dalam journal tersebut seorang laki-laki yang berusia 79 tahun dan menderita diabetes golongan 2 yang sudah parah. Segala bentuk pengobatan modern telah ditempuh bahkan lelaki ini selama 14 bulan telah lima kali masuk rumah sakit dan 4 kali menjalani operasi. Biaya yang dikeluarkan telah mencapai US$ 390,000,- (Sekitar 3.5 milyar rupiah). Dengan segala upaya tersebut luka yang menganga di dua tempat sebesar 8 cm x 5 cm dan 3 cm x 3 cm tetap tidak sembuh meskipun telah diberi antibiotic terbaik yang ada. Bahkan lelaki tersebut telah kehilangan dua jarinya.

Lebih buruk lagi, dua team dokter yang menangani pasien tersebut berusaha meyakinkan pasien bahwa ia perlu diamputasi kakinya mulai lutut ke bawah karena apabila tidak maka nyawanya terancam. Pasien menolak amputasi tersebut dan sebelum dia mendapatkan informasi tentang madu, pasien ini kehilangan satu jari lagi.

Setelah mendapatkan informasi tentang madu, pasien ini mulai membeli madu di super market – mengoleskan pada luka-lukanya dan meninggalkan pengobatan dengan antibiotic lainnya. Karena pengobatan sekarang hanya dengan madu maka biayanya menjadi jauh lebih murah.

Dua minggu setelah menjalani pengobatan dengan madu, jaringan di tempat lukan mulai hidup kembali. Dalam rentang waktu 6 – 12 bulan, pasien tersebut telah sepenuhnya pulih kembali dan lukanya tidak kambuh kembali.

Selasa, 05 Januari 2010

Standar air madu

Sesuai dengan SNI mengenai madu (ternak) maka kadar air adalah 22%, tapi kenapa madu hutan encer sekali? apakah madu tersebut palsu? dicampur dengan air?
Dari hasil di lapangan didapat bahwa madu hutan yang dipanen kadar air berkisar dari 24 - 28%. Sedangkan dari standar yang ditetapkan oleh JMHI (kedepannya) adalah 24%.
Banyak hal yang menyebabkan madu hutan lebih encer, antara lain karena sarang madu hutan berada di luar sehingga terkena hujan dan iklim yang lembab sehingga mempengaruhi kadar air madu hutan.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut maka dikembangkan unit penurunan kadar air tanpa pemanasan langsung terhadap madu, sehingga madu hutan yang dihasilkan akan menjadi lebih tahan lama dan juga mengurangi terjadi nya proses fermentasi.

Beda madu hutan & madu ternak

banyak orang yang menanyakan apa sih bedanya madu hutan dan madu ternak ?
lebih bagus mana sih madu hutan dan madu ternak ?

pertanyaan simple tapi kadang agak susah juga menerangkannya lho...

yang pasti sih :
1. beda jenis lebahnya..
lebah madu hutan dari jenis Apis dorsata sedangkan madu ternak dari jenis Apis cerana atau apis melifera.
sehingga otomatis juga akan mempunyai perbedaan di jenis sarang, jenis nektar yang akhirnya akan mempengaruhi perbedaan rasa dan warna madu yang mereka hasilkan.

2. beda perlakuannya :
madu hutan didapat dari jenis lebah liar (bahasa inggrisnya untuk madu hutan adalah wild honey) yang sampai saat ini belum bisa ditangkarkan. sedangkan madu ternak bisa. (lha wong namanya madu ternak ya pasti kan bisa diternakan hehehe)

3. beda standar kadar airnya;
karena lebah hutan membuat sarang di tempat terbuka (batang pohon, batu karang dll) sehingga otomatis menjadi lebih terpengaruh akan perubahan musim dibanding sarang lebah ternak yang berada di dalam kotak. kadar air standar madu hutan yang ditentukan oleh JMHI sekitar 24% sedangkan kadar air madu (ternak) SNI 21%

Beda madu hutan & madu ternak

Madu Palsu vs Madu Asli

Madu asli atau madu palsu, bagaimana cara membedakannya? Berdasarkan survey dilapangan baik di Indonesia maupun di USA menunjukan bahwa hampir 80% madu yang beredar dipasaran adalah madu palsu. Lalu bagaimana caranya sebagai orang awam, kita bisa mengetahui madu itu Asli?
Madu asli sesungguhnya sangat mudah diketahui hanya dengan melihat dari sifat dan karakter fisiknya yang khas. Sayangnya,  saat ini beredar madu palsu yang meniru sebagian dari sifat atau karakter fisik madu Asli. Sehingga bagi kebanyakan  orang sangatlah susah untuk mengetahu keaslian madu, hanya dengan melihat secara fisik.
Madu Asli mempunyai beberapa karakteristik fisik yang tidak bisa dipalsukan:
  1. Memutar Optik: Madu asli mempunyai kandungan gula yang spesifik yang dapat mengubah sudut putaran cahaya terpolarisasi.
  2. Higroskopis: madu asli bersifat menyerap air, jika madu dibiarkan terbuka pada tempat dengan kelembaban udara tinggi maka madu akan bertambah encer.
  3. Madu asli jika dituangkan ke dalam air hangat tidak akan pecah atau air akan tetap jernih sebelum diaduk. Bagi madu yang sudah dicampur akan lebih cepat membuat keruh.
  4. Sedangkan sifat2 madu yang umumnya  dipalsukan antara lain: sifat madu yang bisa  membuat telor matang, tidak tembus koran atau jika dikocok mengeluarkan gas.
  5. Kandungan madu yang juga tidak bisa dipalsukan adalah adanya kandungan Enzim Diastase. Kandungan diatase inilah salah satu yang digunakan acuan SNI untuk menentukan madu itu asli atau tidak. Karena enzim ini hanya bisa dihasilkan dari kelenjar ludah lebah.
Klau begitu….susah juga ya? Untuk bisa mengetahui madu itu asli. Ada beberapa tips agar kita kita bisa mendapatkan madu asli:
  1. Usahakan saat membeli mengetahui jenis nectar madu tersebut. Karena tiap nectar mempunyai sifat dan karakter fisik yang khas. Misalkan madu kapuk dan Kaliandra, madu kapuk tidak akan mengkristal walaupun disimpan lama di kulkas, sedangkan madu kaliandra akan cepat mengkristal spt gula. Jadi jika membeli madu kapuk tapi madu tersebut mengkristal bisa dipastikan madu itu palsu atau dicampur.
  2. Belilah madu asli di tempat yang dipercaya, seperti di Peternakan lebah. Jika tidak mengetahui dimana membeli madu yang asli setidaknnya bisa dilihat dengan membandingkan harganya.
  3. Lebih aman belilah madu ke peternak lebah yang telah mempunyai standar madu dari SNI. Dibawah ini lampiran standar madu dari SNI ttg madu. 
 
Standar Madu Asli berdasarkan SNI 01-3545-2004
Jenis Uji
Satuan
SNI
Aktifitas Enzim Diastase
DN
Min. 3
Hidroxy Methyl Furfural (HMF)
Mg/kg
Maks. 50
Kadar air
% b/b
Maks  22
Gula Pereduksi
% b/b
Min. 65
Sukrosa
% b/b
Maks. 5
Keasaman
Ml N NaOH/kg
Maks. 50
Abu
% b/b
Maks. 0.50
Logam arsen (As)
Mg/kg
Maks. 0.50

Hal-hal diatas adalah sebagian cara untuk mengetahui madu asli atau madu palsu

Tips Membedakan Madu Asli dan Campuran

Madu palsu atau tiruan adalah larutan yang menyerupai madu. Dibuat tanpa pertolongan lebah atau menggunakan gula sebagai nektar. Umumnya mempunyai warna sama dengan madu asli. Karena itu bagi orang awam sulit untuk membedakan antara madu asli dan madu tiruan. Pada perusahaan-perusahaan yang telah mendapat izin produksi akan mencantumkan keterangan produknya sehingga dapat diketahui apakah itu madu asli atau sintetis. Madu sintetis yang beredar di antaranya adalah madu melon, labu semangka, dan kurma.
Sejak lama madu palsu telah banyak diproduksi orang. Dengan cara mencampur glukosa dengan gula pasir, buah, flavour serta zat warna. Di laboratorium madu palsu akan mudah dikenali dengan analisis kimia. Kandungan HMF (5 hydroxyl-methyl furfural) dengan jumlah maksimum 3mg/100gram, aktivitas enzim diastase minimal 5 serta rasio kandungan kalium (K) dan natrium (Na) dalam madu asli sekitar 4,0 sedangkan madu palsu 0,005-0,1.
Pengujian kadar keaslian madu memang tidak gampang, di samping biayanya juga mahal. Dibutuhkan alat-alat canggih untuk mendeteksi ada tidaknya campuran dengan gula lainnya di dalam madu. Sementara, khasiat madu yang sudah jelas manfaat bagi kesehatan, membuat para pedagang nakal melakukan campuran dengan gula tebu atau gula aren. Bagi orang kebanyakan, rasa manis yang dikeluarkan oleh madu asli dan campuran sulit dibedakan. Dengan melihat dan merasakannya, ahli madu akan dapat membedakan antara madu asli dan yang palsu. Salah satu pengujian yang paling praktis adalah dengan menggunakan pH meter. Madu palsu biasanya memiliki pH 2,4-3,3 atau di atas 5, sedangkan madu asli mempunyai pH 3,4-4,5. Untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilakukan uji kandungan madu di laboratorium. Salah satu laboratorium tempat pengujian madu terdapat di Bogor.
Madu di Indonesia sendiri terbagi menjadi dua, yaitu madu hasil lebah ternak dan madu hutan. Yang dimaksud madu ternak adalah madu tersebut diambil dari nektar bunga pohon-pohon tertentu seperti rambutan, kelengkeng, durian dan sebagainya. Ketika pohon-pohon tersebut sedang berbunga, maka digiringlah lebah-lebah yang sudah berada dalam kotak-kotak menuju perkebunan pohon tersebut. Ciri khas dari madu ternak adalah aroma madunya sesuai dengan nektar bunga dari pohon yang dihinggapi.
Sedangkan madu hutan, lebih variatif nektar bunganya karena dihisap dari berbagai pohon. Madu hutan ini dikenal lebih baik karena lebih banyak mengandung nutrisi yang terdiri dari mineral dan vitamin. Jenis tawon madu hutan pun lebih baik daripada tawon madu ternak. Madu terbaik jenis ini tidak akan beku walaupun diletakkan di freezer selama berbulan-bulan karena kadar airnya di bawah 20%.
Kendati demikian, baik madu hutan maupun madu ternak mempunyai kelemahan. Ketika dipanen pada musim hujan madu akan banyak mengandung air hujan, sedangkan sifat air hujan sendiri bersifat asam. Selain menyebabkan lebih cair, madu juga teroksidasi udara menjadi lebih asam dan akan terfermentasi. Akibatnya, timbul gas yang bisa menjebol tutup botolnya. Semut pun tidak mau menghampiri karena rasanya yang masam-masam manis. Bila madu jenis ini dimasukkan ke dalam freezer akan mudah beku, meski termasuk asli.
Sebenarnya, ada beberapa cara untuk mengetahui keaslian madu secara ilmiah. Misalnya dengan analisis karbon, analisis mikroskopis, analysis hydroxymethylfurfural, analisis polaritas cahaya dan terakhir tes keasaman. Dari lima cara tersebut, empat yang pertama harus menggunakan alat bantu yang cukup mahal harganya dan keahlian tertentu. Jadi, tidak semua orang bisa melakukannya. Sedangkan tes keasaman, merupakan tes yang terbilang relatif mudah dan tidak mahal. Tapi, masih tetap memerlukan pengetahuan tentang madu yang mendalam. Jika tidak, tetap akan sulit membedakan mana madu asli, madu campuran, dan madu buatan (artificial honey).
Di masyarakat berkembang kebiasaan uji keaslian madu yang ditunjukkan menyala ketika dibakar dengan korek api, telur bisa matang, tidak rembes ketika diteteskan pada kertas koran, dan sebagainya. Pengujian tersebut sebenarnya tidak seratus persen benar, masih butuh pembuktian melalui laboratorium.
Sebenarnya masih ada cara lain yang bisa menjadi tolok ukur dan dilakukan oleh semua orang, yakni dengan meneteskan madu di air di atas piring beling putih. Ketika piring digoyang ke kiri dan ke kanan, maka sebelum madu itu bercampur akan membentuk segi enam atau sarang lebah. Semakin lama bentuk segi enam itu bertahan, berarti semakin baik nutrisi yang terkandung dalam madu tersebut alias madu asli. Semakin cepat bentuk segi enam itu memudar, maka jelaslah itu madu campuran, karena nutrisinya sudah jauh berkurang.
Cara lain yang mungkin mudah dilakukan adalah sama seperti di atas, namun piringnya tidak digoyang-goyang. Cukup didiamkan saja. Madu asli yang memiliki kadar air rendah tidak akan membuat air di piring menjadi keruh. Sedangkan madu yang telah dicampur atau madu buatan perlahan-lahan akan membuat air menjadi keruh. Apakah semut bisa menjadi patokan untuk menentukan madu itu asli atau tidak? Pada dasarnya, sifat semut suka pada yang manis-manis, termasuk rasa manis yang ada pada madu. Namun, semakin kental madunya (kadar airnya sedikit) semakin sulit bagi semut untuk mendeteksi lokasi rasa manis madu tersebut karena molekul yang ada di dalam madu tetap utuh, tidak pecah. Sebaliknya, bila kadar airnya tinggi (di atas 20%), maka semut mudah menghampiri.
Sumber: Fatawa Vol.III/No.01 | Desember 2006 / Dzulqa’dah 1427

Senin, 04 Januari 2010

Keajaiban Madu
(Royal Jelly)
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia," kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl: 68-69) Tahukah Anda, betapa madu merupakan sumber makanan penting yang disediakan Allah untuk manusia melalui serangga kecil ini?
Madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran, madu adalah "obat bagi manusia". Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Konferensi tersebut membahas pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari, dan propolis dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter Rumania mengatakan bahwa ia mengujikan madu untuk pengobatan pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh total. Para dokter Polandia juga menyatakan dalam konferensi tersebut bahwa resin lebah dapat membantu penyembuhan banyak penyakit seperti wasir, masalah kulit, penyakit ginekologis, dan berbagai penyakit lainnya.
Dewasa ini, apikultur dan produk lebah telah membuka cabang penelitian baru di negara-negara yang sudah maju dalam hal ilmu pengetahuan. Manfaat madu lainnya dapat dijelaskan di bawah ini:
Mudah dicerna: Karena molekul gula pada madu dapat berubah menjadi gula lain (misalnya fruktosa menjadi glukosa), madu mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun, walau memiliki kandungan asam yang tinggi. Madu membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik.
Rendah kalori: Kualitas madu lain adalah, jika dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, kandungan kalori madu 40% lebih rendah. Walau memberi energi yang besar, madu tidak menambah berat badan.
Berdifusi lebih cepat melalui darah: Jika dicampur dengan air hangat, madu dapat berdifusi ke dalam darah dalam waktu tujuh menit. Molekul gula bebasnya membuat otak berfungsi lebih baik karena otak merupakan pengonsumsi gula terbesar.
Membantu pembentukan darah: Madu menyediakan banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan darah. Lebih jauh lagi, ia membantu pembersihan darah. Madu berpengaruh positif dalam mengatur dan membantu peredaran darah. Madu juga berfungsi sebagai pelindung terhadap masalah pembuluh kapiler dan arteriosklerosis.
Membunuh bakteri: Sifat madu yang membunuh bakteri disebut "efek inhibisi". Penelitian tentang madu menunjukkan bahwa sifat ini meningkat dua kali lipat bila diencerkan dengan air. Sungguh menarik bahwa lebah yang baru lahir dalam koloni diberi makan madu encer oleh lebah-lebah yang bertanggung jawab merawat mereka-seolah mereka tahu kemampuan madu ini.
Royal jelly: Royal jelly adalah zat yang diproduksi lebah pekerja di dalam sarang. Zat bergizi tinggi ini mengandung gula, protein, lemak, dan berbagai vitamin. Royal jelly digunakan untuk menanggulangi masalah-masalah yang disebabkan kekurangan jaringan atau kelemahan tubuh.
Jelaslah bahwa madu, yang diproduksi jauh melebihi jumlah kebutuhan lebah, dibuat untuk kepentingan manusia. Dan telah jelas pula bahwa lebah tidak dapat melakukan tugas-tugas yang sedemikian sulit "dengan sendirinya".  
 

Ray Sahelian, M.D Royal Jelly, dikeluarkan dari kelenjar liur lebah Pekerja, dipergunakan sebagai makanan untuk larvae (Calon Ratu) dan sebagai satu-satunya makanan untuk larvae. Royal Jelly mengandung campuran vitamin, mineral, protein dan asam lemak. Beberapa studi pada binatang pengerat menunjukkan bahwa Royal Jelly merupakan Anti-inflammatory dan anti Tumor.
Dr Alfred Vogel, Seorang Naturopath Ternama berasal dari Swiss:
“Royal Jelly tidak hanya memberikan vitalitas dan awet muda melalui kemampuannya meningkatkan kelenjar endocrine, tetapi juga mampu melawan batuk rejan, khususnya pada anak-anak. Penelitian menemukan bahwa seorang anak dengan jasmani tubuh yang lemah, dapat dengan segera menambah dan meningkatkan selera makan yang lebih baik jika di berikan Royal Jelly." Dia juga mengatakan, "Manfaat juga bisa di peroleh pada kasus bronkhitis, migren, nafsu makan dan masalah gallbladder, pencernaan, syaraf, keletihan akibat kekurangan kelenjar endocrine." Dan banyak lagi masalah-masalah kesehatan lain nya yang dapat di perbaiki, dan memungkinkan untuk di sembuhkan, jika kita mengkonsumsi Royal Jelly Secara teratur.

Penelitian Oleh Dr. Roger Wyburn Mason
Royal Jelly efektif dalam mengurangi gejala radang sendi.
James F. Balch, M.D., and Phyllis A. Balch dalam bukunya Prescription for Nutritional Healing: Menulis “Royal Jelly diketahui dapat membantu mengatasi penyakit liver/hati, pankreas, insomnia, mag, penyakit ginjal, patah tulang dan menghaluskan kulit, serta dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan (immune system)."
MENGAPA Royal Jelly Merupakan salah satu Suplement yang paling di cari-cari? Karena merupakan makanan kaya akan Nutrisi yang sangat mengagumkan. Para ahli Biokimia MENEMUKAN Royal Jelly mengandung, Vitamins A, B Complex, C, D and E serta vitamin B dan bagian-bagian nya seperti B1, B2, B3, B6, Bl2, biotin, folic acid, pantothenic acid yang dapat meningkatkan kelenjar adrenalin dan dapat mengurangi stress


 
Royal Jelly Research Update
Exp Gerontol. 2003 Sep
Royal Jelly dapat memperpanjang jangka waktu hidup C3H/HeJ tikus: Berhubungan dengan pencegahan kerusakan DNA.
In this study, we investigate the effect of dietary Royal Jelly on tissue DNA oxidative damage and on the life span of C3H/HeJ mice. In C3H/HeJ mice that were fed a dietary supplement of royal jelly for 16 weeks, the levels of 8-hydroxy-2-deoxyguanosine (8-OHdG), a marker of oxidative stress, were significantly reduced in kidney DNA and serum. Secondly, we determined the effect of dietary royal jelly on the life span in C3H/HeJ mice. The 50% mice survivals of intermediate- (about 6 mg/kg weight) and high-dose groups (about 60 mg/kg weight) were reached at significantly longer times than that of the control group according to the generalized Wilcoxon test. The average survival times were 88 weeks for the control group vs. 79 weeks for the low-dose royal jelly group, 112 weeks for the intermediate-dose group and 110 weeks for the high-dose royal jelly group, showing that royal jelly extended the average survival time by about 25% compared to the control group. However, royal jelly did not extend the total life span. These results indicated that dietary royal jelly increased the average life span of C3H/HeJ mice, possibly through the mechanism of reduced oxidative damage.
Biol Pharm Bull. 2004 Feb
Antihypertensive effect of peptides from royal jelly in spontaneously hypertensive rats

We have shown that Protease N treated Royal Jelly (ProRJ) and peptides from ProRJ (Ile-Tyr (IY), Val-Tyr (VY), Ile-Val-Tyr (IVY)) inhibited angiotensin I-converting enzyme (ACE) activity and they have an antihypertensive effect in repeated oral administration for 28 d on spontaneously hypertensive rats (SHR). We investigated the contributive ratio of these peptides in ProRJ for antihypertensive effect in single oral administration on SHR. In single oral administration of each peptide and peptides mixture (MIX; IY, VY and IVY) at doses of 0.5, 1 and 10 mg/kg, systolic blood pressure (SBP) of SHR was reduced dose-dependently. This antihypertensive effect was held for 8 h. These results suggest that peptides contributed to the antihypertensive effect of ProRJ. And the contributive ratio of MIX in ProRJ for antihypertensive effect was computed to be about 38%. Therefore it is considered that intake of peptides, as a functional food would be beneficial for improving blood pressure in people with hypertension.
Biosci Biotechnol Biochem. 2004 Jan
Royal Jelly dapat menghalang produksi proinflammatory cytokines dengan menggiatkan macrophages.

In this study, we have examined the anti-inflammatory actions of royal jelly (RJ) at a cytokine level. When supernatants of RJ suspensions were added to a culture of mouse peritoneal macrophages stimulated with lipopolysaccharide and IFN-gamma, the production of proinflammatory cytokines, such as TNF-alpha, IL-6, and IL-1, was efficiently inhibited in a dose-dependent manner without having cytotoxic effects on macrophages. This suggests that RJ contains factor(s) responsible for the suppression of proinflammatory cytokine secretion. We named the factor for honeybees RJ-derived anti-inflammatory factor (HBRJ-AIF), and further investigated the molecular aspects of it. Size fractionation study showed that HBRJ-AIF is composed of substances of low (< 5 kDa) and high (> 30 kDa) molecular weights, with the former being a major component. Chromatographic analysis showed that MRJP3 is one candidate for the HBRJ-AIF with high molecular weights. Thus, our results suggest that RJ has anti-inflammatory actions through inhibiting proinflammatory cytokine production by activated macrophages.
J Nutr Sci Vitaminol (Tokyo). 2001 Dec
Mencegah Kelelahan pada tikus.
We investigated the anti-fatigue effect of royal jelly, which had been stored at -20 degrees C from immediately after collection, in male Std ddY mice. The mice were accustomed to swimming in an adjustable-current swimming pool, then subjected to forced swimming five times during 2 wk, and the total swimming period until exhaustion was measured. They were separated into three groups with equal swimming capacity, which were administered royal jelly, royal jelly stored at 40 degrees C for 7 d (40-7d royal jelly), or the control solution including casein, cornstarch, and soybean oil before swimming. All mice were forced to swim for 15 min once; then the maximum swimming time to fatigue was measured after a rest period. The swimming endurance of the royal jelly group significantly increased compared with those of the other groups. The mice in the royal jelly group showed significantly decreased accumulation of serum lactate and serum ammonia and decreased depletion of muscle glycogen after swimming compared with the other groups, whereas there was no significant difference between the 40-7d RJ group and the control group in these parameters after swimming. A quantitative analysis of constituents in royal jelly showed that 5 7-kDa protein, which we previously identified as a possible freshness marker of royal jelly, was specifically degraded in royal jelly stored at 40 degrees C for 7 d, whereas the contents of various vitamins, 10-hydroxy-2-decenoic acid, and other fatty acids in RJ were unchanged. These findings suggest that royal jelly can ameliorate the physical fatigue after exercise, and this anti-fatigue effect of royal jelly in mice seems to be associated with the freshness of RJ, possibly with the content of 5 7-kDa protein.