Sabtu, 07 Agustus 2010

Apa itu WAHABI & Bagaimana ajaran Wahabi?


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Berikut ini saya sajikan sebuah artikel yang membahas tentang bantahan terhadap tuduhan wahabi kepada para pendakwah Tauhid. Artikel ini saya kelompokkan dalam dua bagian, dengan judul “Wahabi, sebuah bantahan”. Selamat membaca semoga bermanfa’at bagi kita semua.

Apakah wahabi itu?
Oleh : Ust.Ali Musri Semjan Putra, Lc.MA
Kandidat Doktor Universitas Islam Madinah

Apakah Wahabi itu ?
Pertanyaan yang amat singkat diatas membutuhkan jawaban yang cukup panjang, jawaban tersebut akan tersimpul dalam beberapa point berikut :
1. Keadaan yang melatar belakangi munculnya tuduhan wahabi.
2. Kepada siapa dituduhkan gelar wahabi tersebut
3. Pokok-pokok landasan da’wah yang dicap sebagai wahabi.
4. Bukti kebohongan tuduhan wahabi terhadap da’wah ahlussunnah wal jama’ah
5. Ringkasan dan penutup.

Keadaan yang melatar belakangi munculnya tuduhan Wahabi
Dengan melihat gambaran sekilas tentang keadaan Jazirah Arab serta negeri sekitarnya, kita akan tahu sebab munculnya tuduhan tersebut, sekaligus kita akan mengerti apa yang melatar belakanginya. Yang ingin kita tinjau disini adalah dari aspek politik dan keagamaan secara umum, aspek aqidah secara khusus.

Dari segi aspek politik Jazirah Arab berada dibawah keluasan yang terpecah-pecah, terlebih khusus daerah Najd, perebutan kekuasaan selalu terjadi disepanjang, waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.
Para penguasa hidup dengan memungut upeti darai rakyat jelata, jadi mereka sangat marah bila ada kekuatan atau da’wah yang dapat menggoyang kekuasaan mereka. Begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan obyek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama dengan benar. Dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang coba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.

Dari segi aspek agama, pada abad [12H/17H] keadaan keberagamaan umat Islam sudah sangat jauh menyimpang dari kemurnian Islam itu sendiri. Terutama dalam aspek aqidah, banyak sekali disana sini praktek-praktek syirik atau bid’ah. Para ulama yang ada bukan berarti tidak mengingkari hal tersebut, tapi usaha mereka hanya sebatas lingkungan mereka saja dan tidak berpengaruh secara luas, atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari fihak yang menentang karena jumlah mereka begitu banyak. Disamping itu pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktek-praktek syirik dan bid’ah tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentigan duniawi dibelakang itu. Sebagaimana keadaan seperti ini masih kita saksikan ditengah-tengah sebagian umat Islam, barangkali negara kita masih dalam proses ini, diamana aliran-aliran sesat dijadikan sebagai batu loncatan untuk mencapai pengaruh politik.

Pada sa’at itu Najd sebagai tempat kelahiran sang pengibar bendera tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat menonjol hal tersebut. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, bahwa dimasa itu pengaruh keagamaan melemah ditubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah dan sebagainya. Karena ilmu agama mulai minim dikalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktek-praktek syirik terjadi disana sini, seperti, meminta kekuburan wali-wali, meminta kebebatuan, pepohonan dengan memberikan sesajian, mempercayai dukun, tukang tenun dan peramal. Salah satu daerah di Najd ada namanya kampung Jubailiyah disitu terdapat kuburan shahabat Zaid bin Khathab [saudara Umar bin Khathab] yang syahid dalam peperangan melawan Musailimah Al Kadzab. Orang-orang berbondong-bondong kesana untuk meminta berkah dan meminta berbagai hajat. Begitu pula dikampung Uyainah terdapat pula sebuah pohon yang diagungkan, para manusia juga mencari berkah disitu, termasuk para kaum wanita yang belum juga mendapatkan pasangan hidup meminta disana.

Adapun daerah Hijaz [Mekah dan Madinah] sekalipun tersebarnya ilmu dikarenakan keberadaan dua kota suci yang selalu dikunjungi oleh para ulama dan penuntut ilmu. Disini tersebar kebiasaan suka bersumpah dengan selain Allah, menembok, membangun kubah-kubah diatas kuburan dan berdo’a disana untuk mendapatkan kebaikan atau menolak mara bahaya dan lain sebagainya [ref kitab Raudhatul Afkar oleh: Ibnu Qhanin].

Begitu pula negeri-negeri sekitar Hijaz, apalagi negeri yang jauh dari dua kota suci tersebut, ditambah lagi kurangnya ulama, tentu akan lebih memprihatinkan lagi dari apa yang terjadi di Jazirah Arab. Hal ini disebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam ktabnya “Qawa’id arba

“:”Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada sa’at menghadapi bahaya. Sedangkan kesyirikan pada jaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik disa’at aman apalagi sa’at mendapat bahaya”

Pada abad [12H/17M] lahirlah seorang pembaharu dinegeri Najd yairu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dari Qabilah Bani Tamim. Yang pernah mendapat pujian dari Rasulullah saw dalam sabda beliau : 

”Bahwa mereka [yaitu Bani Tamim] adalah umatku yang terkuat dalam menentang Dajjal” [HR.Bukhari no 2405, Muslim no 2525].

Pada tahun 1115H di Uyainah [salah satu perkampungan didaerah riyad] beliau lahir dalam lingkungan kekuarga ulama. Kakek dan bapaknya merupakan ulama yang terkemuka dinegeri Najd. Sebelum berumur sepuluh tahun beliau telah hafal Al Qur’an. Beliau memulai petualangan ilmunya dari ayah kandungnya dan pamannya. Dengan modal kecerdasan dan ditopang oleh semangat yang tinggi, beliau berpetualang keberbagai daerah tetangga untuk menuntut ilmu, seperti: Basrah dan Hijaz. Sebagaimana lazimnya kebiasaan para ulama dahulu dimana mereka membekali diri mereka dengan ilmu yang matang sebelum turun kemedan da’wah. Hal ini juga disebut oleh Syaikh Muhammad bin abdul wahab dalam kitabnya “Ushul Tsalasah”: ”Ketahuilah semoga allah merahmatimu, sesungguhnya wajib atas kita untuk mengenal empat masalah : pertama Ilmu yaitu mengenal allah, mengenal nabi-Nya, mengenal agama Islam dengan dalil-dalil”kemudian beliau sebutkan dalil tentang pentingnya ilmu sebelum beramal dan berda’wah, beliau sebutkan ungkapan Imam Al Bukhari : “bab berilmu sebelum berbicara dan beramal, dalilnya firman Allah :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (١٩)

19. Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.


Setelah beliau kembali dari petualangan ilmu, beliau mulai berda’wah dikampung Huraimilak dimana ayah kandung beliau menjadi qadhi [hakim]. Disamping berdakwah beliau tetap menimba ilmu dari ayah beliau sendiri, setelah ayah beliau meninggal pada tahun 1153 H, beliau semakin gencar menda’wakan tauhid. Ternyata kondisi dan situasi Huraimilak kurang menguntungkan da’wah. Selanjutnya beliau pindah ke Uyainah, ternyata penguasa Uyainah sa’at itu memberikan dukungan dan bantuan untuk dakwah yang beliau bawa. Namun akhirnya penguasa Uyainah mendapat tekanan dari berbagai fihak, akhirnya beliau pindah lagi dari Uyainah ke Dir’iyah. Ternyata masyarakat Dir’iyah telah banyak mendengar tentang dakwah beliau melalui murid-murids beliau, termasuk sebagian diantara murid beliau keluarga penguasa Dir’iyah. Akhirnya timbul inisiatif dari sebagian murid beliau untuk memberi tahu pemimpin Dir’iyah tentang kedatangan beliau, maka dengan rendah hati Muhammad bin Saud sebagai pemimpin Dir’iyah waktu itu mendatangi tempat dimana Syaikh Muhammad bin abdul wahab menumpang. Maka disitu terjalinlah perjanjian yang penuh berkah bahwa diantara keduanya berjanji akan bekerja sama dalam menegakkan agama allah. Dengan mendengar adanya perjanjian tersebut mulailah musuh-musuh aqidah kebakaran jenggot, sehingga mereka berusaha dengan berbagai dalih untuk menjatuhkan kekuasaan Muhammad bin Saud, dan menyiksa orang-orang yang pro terhadap da’wah tauhid.

Kepada Siapa dituduhkan gelar Wahabi
Hari demi hari da, wah tauhid semakin tersebar, mereka para musuh da’wah tidak mampu lagi untuk melawan dengan kekuatan, maka mereka berpindah arah dengan memfitnah dan menyebarkan isu-isu bohong, supaya mendapat dukungan dari pihak lain untuk menghambat laju da’wah tauhid tersebut. Diantara fitnah yang tersebar adalah sebutan “wahabi” untuk orang yang mengajak kepada tauhid. Sebagaimana lazimnya setiap penyeru kepada kebenaran pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan anak duri dalam menapaki perjalanan da’wah termasuk para nabi sekalipun. Sebagaimana telah dijelaskan pula oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau “Kasyfus Syubuhaat”: “Ketauhilah olehmu, bahwa sesungguhnya diantara hikmah Allah ta’ala, tidak diutus seorang nabipun dengan tauhid ini, melainkan Allah menjadikan baginya musuh-musuh, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ (١١٢)

112. dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

[499] Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.

Bila kita membaca sejarah para nabi tidak seorangpun diantara mereka yang tidak menghadapi tantangan dari kaumnya. Bahkan diantara mereka ada yang dibunuh, termasuk Nabi kita Muhammad saw diusir dari tanah kelahirannya. Beliau dituduh sebagai orang gila, tukang sihir dan penyair. Begitu pula para ulama yang mengajak kepada ajarannya dalam sepanjang masa. Ada yang dibunuh, dipenjara, disiksa, dan sebagainya. Atau dituduh yang bukan-bukan untuk memojokkan mereka dihadapan manusia, supaya orang lari dari kebenaran yang mereka serukan.

Hal ini pula yang dihadapi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam lanjutan surat beliau kepada penduduk Qasyim : “Kemudian tidak tersembunyi lagi atas kalian, saya mendengar bahwa surat Sulaiman bin Suhaim [seorang penentang da’wah tauhid] telah sampai kepada kalian, lalu sebagian diantara kalian ada yang percaya terhadap tuduhan-tuduhan bohong yang ia tulis, yang mana saya sendiri tidak pernah mengucapkannya, bahkan tidak pernah terlintas dalam ingatanku. Seperti tuduhannya :

a. Bahwa saya mengingkari kitab-kitab madzab yang empat.
b. Bahwa saya mengatakan bahwa manusia sejak 600tahun lalu sudah  tidak lagi memilki ilmu.
c. Bahwa saya mengaku sebagai mujtahid.
d. Bahwa saya mengatakan bahwa perbedaan pendapat antar ulama adalah bencana.
e. Bahwa saya mengkafirkan orang yang bertawasul dengan orang-orang shaleh.
f. Bahwa saya pernah berkata, jika mampu saya akan ganti pancuran Ka,bah dengan pancuran kayu.
g. Bahwa saya pernah berkata, jika mampu saya akan runtuhkan kubah yang dibangun diatas kuburan Rasulullah saw.
h. Bahwa saya mengharamkan ziarah kubur.
i.  Bahwa saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah.

Jawaban saya untuk tuduhan-tuduhan ini adalah : “sesungguhnya ini semua adalah suatu kebohongan yang nyata.”

Lalu belaiu tutup dengan firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (٦)

6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Baca jawaban untuk berbagai tuduhan diatas dalam kitab-kitab berikut : Mas’ud An Nadawy “Muhamamad bin abdul Wahab Muslih Mazhlum”, Abdul aziz Al Abdullathif “Da’awy Munaawi-iin Li Da’wah Muhammad bin Abdil Wahab”, Sholeh Fauzan “Min A’laam Al Mujaddidiin”, dan lain-lain.

Pokok-pokok Landasan Da’wah yang dicap sebagai Wahabi
Pokok landasan da’wah yang utama sekali beliau tegakkan adalah pemurnian ajaran tauhid dari berbagai campuar syirik dan bid’ah, terutama dalam mengkultuskan para wali, dan kuburan mereka. Hal ini akan tampak jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab dan surat-surat beliau [Lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab “majmu’muallafaat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab jilid 3”].
Dalam sebuah suratnya kepada penduduk Qashim, beliau paparkan aqidah beliau dengan jelas dan gamblang. Ringkasnya sebagai berikut :

1. Saya bersaksi bahwa saya berkeyakinan sesuai dengan keyakinan golongan yang selamat [Ahlussunnah wal jama’ah], yaitu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari berbangkit setelah mati, dan takdir baik maupun buruk.

2. Termasuk beriman kepada Allah adalah beriman dengan sifat-sifat-Nya yang terdapat dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya tanpa tahrif [merubah pengertiannya] dan tidak pula ta’thil [mengingkarinya]. Saya berkeyakinan bahwa tiada satupun yang menyerupai-Nya, dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bahwa beliau orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk(Musabbihah atau Mujassimah) 

3. Saya beriman bahwa Allah itu berbuat terhadap segala apa yang dikehendaki-Nya, tidak satupun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya dan tiada satupun yang keluar dari kehendak-Nya.

4. Saya beriman segala perkara yang diberitakan oleh Nabi Muhammad saw tentang apa yang akan terjadi setelah mati. Saya beriman dengan azab dan nikmat kubur dan tentang akan dipertemukannya kembali antara ruh dan jasad. Kemudian manusia dibangkitkan menghadap Sang Pencipta sekalian alam, dalam keadaan tanpa bersandal, tanpa pakaian dan dalam keadaan tidak berkhitan. Matahari sangat dekat dengan mereka, lalu amalan manusia akan ditimbang dan catatan amalan mereka akan diberikan kepada mereka masing-masing, sebagian mengambilnya dengan tangan kanan dan sebagian lain dengan tangan kiri.
5. Saya beriman dengan telaga nabi kita Muhammad saw.
6. Saya beriman dengan shirat [jembatan] yang terbentang diatas neraka jahanam, manusia melewatinya sesuai dengan amalan mereka masing-masing.

7. Saya beriman dengan syafa’at nabi kita Muhammad saw, bahwa beliau adalah orang pertama sekali memberi syafa’at. Orang yang mengingkari syafa’at adalah termasuk pelaku bid’ah dan sesat. [dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari syafa’at nabi Muhammad saw.]

8. Saya beriman dengan surga dan neraka, dan keduanya telah ada sekarang, serta keduanya tidak akan sirna.

9. Saya beriman bahwa orang mukmin akan melihat Allah dalam surga kelak.

10. Saya beriman bahwa nabi kita Muhammad saw adalah penutup segala nabi dan rasul, tidak sah iman seseorang sampai beriman dengan kenabiannya dan kerasulannya. [dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengaku sebagai nabi atau tidak memuliakan nabi Muhammad saw, bahkan beliau mengarang sebuah kitab tentang sejarah nabi Muhammad dengan judul:”Mukhtashar Sirah Ar Rasul”. Bukankah ini bukti tentang kecintaan beliau kepada Rasulullah].

11. Saya mencintai para sahabat Rasulullah, begitu pula para keluarga beliau, saya memuji mereka, dan mendo’akan semoga Allah meridlai mereka. Saya menutup mulut dari membicarakan kejelekan dan perselisihan yang terjadi diantara mereka.

12. Saya mengakui karomah para wali Allah, tetapi apa yang menjadi hak Allah tidak boleh diberikan kepada mereka, tidak boleh meminta kepada mereka sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah. [dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari karomah atau tidak menghormati para wali].

13. Saya tidak mengkafirkan seorangpun dari kalangan muslim yang melakukan dosa dan tidak pula mengeluarkan mereka dari lingkaran islam. [dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa belaiu mengkafirkan kaum muslimmin, atau berfaham Khawarij. Baca juga “Manhaj Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Fi Masalah At Takfir” karangan Ahmad Ar Rudhaiman]
14. Saya berpandangan tentang wajibnya ta’at kepada para pemimpin kaum muslimin, baik yang berlaku adil maupun yang berbuat dzalim, selama mereka tidak menyuruh kepada perbuatan maksiat. [dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang menganut faham Khawarij/Teroris].

15. Saya berpandangan tentang wajibnya menjauhi para pelaku bid’ah, sampai ia bertaubat kepada allah. Saya menilai mereka secara lahir, adapun amalan bathin mereka saya serahkan kepada Allah.

16. Saya berkeyakinan bahwa iman itu terdiri dari perkataan dengan lidah, perbuatan dengan anggota tubuh dan pengakuan dengan hati, ia bertambah dengan keta’atan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Bukti kebohongan tuduhan Wahabi terhadap Da’wah Ahlussunnah Wal Jama’ah
Dengan membandingkan antara tuduhan-tuduhan sebelumnya dengan aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kita sebutkan diatas, tentu dengan sendirinya kita akan mengetahui kebohongan tuduha-tuduhan tersebut.

Tuduhan-tuduhan bohong tersebut disebar luaskan oleh musuh da’wah ahlussunnah wal jama’ah keberbagai negeri islam, sampai pada masa sekarang ini, masih banyak orang tertipu dengan kebohongan tersebut. Sekalipun telah terbukti kebohongannya, bahkan seluruh karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab membantah tuduhan tersebut.

Kita ambil contoh kecil saja dalam kitab beliau “Ushul Tsalasah”kitab yang kecil sekali, tapi penuh dengan mutiara ilmu, beliau mulai dengan menyebutkan perkataan Imam Syafi’i, kemudian dipertengahannya beliau sebutkan perkataan Ibnu Katsir yang bermadzab Syafi’i. Jika beliau tidak mencintai para imam madzab yang empat atau hanya berpegang dengan madzab Hambali saja, mana mungkin beliau akan menyebutkan perkataan mereka tersebut.
Bahkan beliau dalam salah satu surat beliau kepada salah seorang kepala suku didaerah syam berkata :”Saya katakan kepada orang yang menentangku, sesungguhnya yang wajib atas manusia adalah mengikuti apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah saw, maka bacalah buku-buku yang terdapat pada kalian, jangan kalian ambil dari ucapanku sedikitpun, tetapi apabila kalian telah mengetahui perkataan Rasulullah saw yang terdapat dalam kitab kalian tersebut maka ikutilah, sekalipun kebanyakan manusia menentangnya”[ lihat kumpulan surat-surat beliau dalam kitab “Majmu Muallafaat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab”jilid 3].

Dalam ungkapan beliau diatas jelas sekali bahwa beliau tidak mengajak manusia kepada pendapat beliau, tetapi mengajak untuk mengikuti ajaran Rasulullah saw.

Para ulama dari berbagai negeri islam pun membantah tuduhan-tuduhan bohong tersebut setelah mereka melihat secara nyata da’wah yang beliau tegakkan, seperti daerah Yaman Imam asy Syaukani dan Imam As Shan’any, dari India Syaikh Mas’ud An Nadawy, dari Iraq Syaikh Muhammad Syukri Al Alusy.

Syaikh Muhammad Syukri Al Alusy berkata setelah beliau menyebutkan berbagai tuduhan bohong yang tersebar oleh musuh-musuh da’wah tauhid dan pengikutnya: ”Seluruh tuduhan tersebut adalah kebohongan, fitnah dan dusta semata dari musuh-musuh mereka, yaitu dari golongan pelaku bid’ah dan kesesatan, bahkan kenyataannya seluruh perkataan dan perbuatan serta buku-buku mereka menyanggah tuduhan-tuduhan itu semua”[Al Alusy, Tarikh Najd, hal 40].

Begitu pula Syaikh Mas’ud An Nadawy dari India berkata””Sesungguhnya kebohongan yang amat nyata yang dituduhkan terhadap da’wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah penamaannya dengan wahabi, tetapi orang-orang yang rakus berusaha mempolitisir nama tersebut sebagai agama diluar Islam. Lalu Inggris, Turkey dan Mesir bersatu untuk menjadikannya sebagai lambang yang menakutkan, dimana setiap muncul kebangkitan Islam yang terjadi diberbagai negeri. Lalu orang-orang Eropa melihat akan membahayakan mereka, lalu mereka menghubungkannya dengan wahabi, sekalipun keduanya saling bertentangan” [Muhammad bin Abdul Wahab Mushlih Mazhluum.hal : 165]

Begaitu pula Raja Abdul Aziz dalam sebuah pidato yang beliau sampaikan dikota Makkah dihadapan jama’ah haji tanggal 11 Mei 1929 M dengan judul ”Inilah Aqidah Kami” :”Mereka menamakan kami sebagai orang-orang wahabi, mereka menamakan madzab kami wahabi, dengan anggapan sebagai madzab khusus. Ini adalah kesalahan yang amat keji, muncul dari isu-isu bohong yang disebarluaskan oleh orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu. Kami bukanlah pengikut madzhab dan aqidah baru, Muhammad bin Abdul Wahab tidak membawa sesuatu yang baru. Aqidah kamiadalah aqidah salafus shaleh, yaitu yang terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, serta apa yang menjadi pegangan salafus shaleh. Kami memuliakan imam-imam yang empat, kami tidak membeda-bedakan antara imam-imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah. Mereka adalah orang-orang yang dihormati dalam pandangan kami, sekalipun kami dalam masalah fiqih berpegangan dengan madzab Hambali” [Al Wajiz Fi Sirah Malik Abdul aziz, hal : 216]

Dari sini terbukti lagi kebohongan dan propaganda yang dibikin oleh musuh Islam dan musuh da’wah Ahlussunnah bahwa teroris diciptakan oleh wahabi. Karena seluruh buku-buku aqidah yang menjadi pegangan dikampus-kampus tidak pernah luput dari membongkar kesesatan teroris [Khawarij dan Mu’tazilah]. Begitu pula tuduhan bahwa mereka tidak menghormati para wali Allah atau dianggap membikin madzhab yang kelima. Pada kenyataannya semua buku-buku yang dipelajari dalam seluruh jenjang pendidikan adalah buku-buku para wali Allah dari berbagai madzhab. Penulis sebutkan disini buku-buku yang menjadi panduan di Universitas Islam Madinah :

1. Untuk mata kuliah Aqidah : kitab Syarah aqidah Thahawiyah [ Ibnu Abdill’iz Al Hanafi], Fathul Majiid [Abdurrahman Al Hambaly], Al Ibaanah [Imam Abu Hasan Al Asy’ari], Al Hujjah [Al Ashfahany Asy Syafi’i], Asy Syari’ah {Al Ajurry], kitab At Tauhid [Ibnu Khuzaimah], kitab At Tauhid [Ibnu Mandah], dan lain-lain.

2. Untuk mata kuliah Tafsir : Tafsir Ibnu Katsir Asy Syafi’i dan Tafsir Asy Syaukany. Ditambah sebagai penunjang Tafsir At Thabary, Tafsir Al Qurtuby Al Maliky, Tafsir Al Baghawy Asy Syafi’i dan lain-lain.

3. Untuk mata kuliah Hadits : Kutub As Sittah beserta syarahnya seperti, Fathu Bary [Ibnu Hajar Al Asqalany Asy Syafi’i, syarah Shahih Muslim [Imam Nawawy Asy Syafi’i], dan lain-lain.

4. Untuk mata kuliah fiqh : Bidayatul Mujtahid [Ibnu Rusyd Al Maliky], Subulussalam [Ash Shan’any]. Ditambah sebagai penunjang Al Majmu [Imam Nawawy Asy Syafi’i], Al Mughny [Ibnu Qudamah Al Hambaly] dan lain-lain.

Kalau ingin melihat lebih dekat lagi tentang kiatb-kitab yang menjadi panduan mahasiswa di Arab Saudi, silahkan berkunjung keperpustakaan Universitas Islam Madinah atau perpustakaan masjid Nabawy. Disana akan terbukti segala kebohongan dan propaganda yang dibikin oleh musuh-musuh Islam dan kelompok yang berseberangan dengan faham ahlussunnah wal jama’ah seperti tuduhan teroris dan wahabi.

Selanjutnya kami mengajak semua umat Islam, apabila mendengar tuduhan jelek tentang da’wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, atau membaca buku yang menyebarkan tuduhan jelek tersebut, maka sebaiknya ia meneliti langsung dari buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, atau membaca buku ulama yang seaqidah dengannya, supaya ia mengetahui tentang kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut, sebagaimana perintah Allah kepada kita :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (٦)

6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanm itu.
Karena buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bisa didapatkan dengan mudah, terlebih-lebih pada sa’at musim haji yang dibagi gratis. Disitu akan terbukti bahwa beliau tidak mengajak kepada madzhab baru atau kepercayaan baru yang menyimpang dari pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah, namun semata-mata ia mengajak untuk beramal sesuai dengan kitab allah dan sunnah Rasul-Nya, sesuai dengan madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, mentauladani Rasulullah saw, para sahabatnya dan generasi terkemuka umat ini, serta menjauhi segala bentuk Bid’ah dan Khurafat.

Ringkasan dan Penutup

Ringkasan
1. Seorang da’i hendaknya membekali dirinya dengan ilmu yang cukup sebelum terjun   kemedan da’wah.

2. Seorang da’i hendaklah memulai da’wahnya dari Tauhid, bukan kepada politik. Selama umat tidak beraqidah yang benar selama itu pula politik tidak akan stabil.

3. Seorang da’i hendaklah sabar dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam menegakkan da’wah.

4. Seorang da’i yang ikhlas dalam da’wahnya harus yakin dengan pertolongan Allah, bahwa Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya.

5. Tuduhan wahabi adalah tuduhan yang datang dari musuh da’wah Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan tujuan untuk menghalangi orang dari mengikuti da’wah Ahlussunnah wal Jama’ah.

6. Muhamamd bin abdul Wahab bukanlah sebagai pembawa aliran baru atau ajaran baru, tetapi seorang yang berpegang teguh dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

7. Perlunya ketelitian dalam membaca atau mendengar sebuah isu atau tuduhan jelek terhadap seseorang atau suatu kelompok. Terutama merujuk pemikiran seseorang tersebut melalui tulisan atau karangannya sendiri untuk membuktikan berbagai tuduhan dan isu yang tersebar tersebut.

Penutup
Sebagai penutup kami mohon ma’af atas segala kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan materi ini, semua itu adalah karena keterbatasan ilmu yang kami milki. Semoga apa yang kami sampikan ini bermanfa, at bagi kami sendiri dan bagi semua pembaca. Semoga allah memperlihatkan kepada kita yang benar itu adalah benar, kemudian menuntun kita untuk mengikuti kebenaran itu. Dan memperlihatkan kepada kita yang salah itu adalah salah, dan menjauhkan kita dari mengikuti yang salah itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar